GTKHNK 35+, PENGABDIAN TANPA BATAS

GTKHNK 35+, PENGABDIAN TANPA BATAS

 



Musim hujan adalah musim yang sangat dinanti. Musim yang selalu membawa harapan dan memuaskan dahaga tetumbuhan dan mahluk Tuhan di muka bumi. Mungkin ini adalah realita masa lalu nenek moyang kita. Saat bumi masih alami dan belum rusak oleh tangan tangan tidak bertanggungjawab. Seiiring berjalannya waktu, perkembangan tenologi dan kecerdasan manusia yang kemudian diwarnai dengan nafsu keserakahan, musim hujan kini bertransformasi menjadi salah satu pemicu banjir dan bencana lainnya. Tentu saja ini bukan salah musim hujan, ini murni kesalahan manusia, yang tidak bisa merawat dan menjaga ekosistem yang ditempatinya.


Kalender tahun 2021 baru melewati bulan pertama, namun sudah banyak dihiasi berita wabah dan bencana. Wabah Covid 19 yang belum juga reda, Jatuhnya pesawat, tanah longsor, gunung meletus dan banjir hampir merata di seluruh penjuru tanah air kita. Tentu saja semua musibah ini menguras banyak energy, tenaga, materi dan air mata semua pihak.


Di sisi lain, dunia pendidikan juga mengalami bencana yang tidak bisa dianggap enteng. Pandemi yang memaksa pemerintah membuat kebijakan belajar  dari rumah, mengharuskan pendidik dan peserta didik belajar secara online, dan tidak dibenarkan berkumpul di sekolah. Kegiatan belajar jarak jauh -yang meniadakan interaksi langsung dan melarang hadir di sekolah-  ternyata membawa dampak serius bagi perkembangan mental peserta didik. Keterampilan  akademik yang dapat dibaca di buku panduan  memang mudah dipelajari, tetapi akhlak dan budi pekerti lebih banyak mengandalkan contoh, praktik nyata, dan harus dibiasakan berulang ulang, bukan sekedar dibaca dari text atau ditonton di layar datar. Akibatnya, krisis moral meningkat, adap kepada guru dan orang tua mulai tergradasi dengan masiv.


Lantas bagaimana kabar sekolah tempat mencari ilmu yang hampir setahun ditinggal penghuninya akibat pandemi? Rata rata sekolah mengalami kerusakan karena jarang dihuni. Bangunan yang semula riuh rendah oleh tawa canda siswa siswi berseragam, kini sepi tanpa penghuni dan banyak ditumbuhi rumput liar, dihuni aneka hewan kecil dan -bisa jadi- mahluk astral. Semoga saja pandemic segera berakhir agar mahluk mahluk itu tidak sampai membangun peradaban baru di sekolah kita.


Banjir yang melanda Kabupaten Pasuruan telah memberikan warna tersendiri di perkampungan dan tiap sudut sekolah yang disapanya. Seperti di SDN Kalirejo 1 Kecamatan Bangil ini, tampak para Honorer dengan semangat dan ikhlas membersihkan setiap sudut sekolah tempat mereka mengabdi. Mereka tak takut kotor, tak peduli jika nanti setelah bersih bersih akan kelelahan atau bagaimana. Dan tidak memikirkan apakah setelah ini ada upah atau imbalan bagi mereka. Yang ada di benak mereka hanya semangat mengabdi, mendedikasikan semua yang mereka mampu untuk mencerdaskan siswa, dan menjaga kebersihan sekolah.


Sebagian di SD yang lain tetap aktif membuat perangkat pembelajaran dan memantau pelajaran siswa siswi mereka. Mereka ikhlas melakukannya, tanpa tekanan atau paksaan. Melihat senyum mengembang di bibir siswa siswa mereka saat berhasil menguasai pelajaran, sudah sangat  berarti bagi mereka. Namun kadang keikhlasan seperti ini malah dimanfaatkan. Entahlah bagaimana nasib  sekolah dan pendidikan jika para honorer ikhlas yang telah mengabdi bertahun tahun ini kemudian diabaikan lebih lama lagi. Semoga saja segera ada titik terang.


         



Kirim Komentar

Info Sebelumnya Info Berikutnya